Selasa, 19 Maret 2013

Sendratari Anak-anak Bisu Tuli Digelar Spektakuler

Luar biasa. Itulah gambaran singkat pagelaran Sendratari Ramayana yang diperankan oleh anak-anak siswi tuna rungu LPATR Dena Upakara, Jumat 15 Maret 2013 lalu. Setelah secara intensif selama tujuh minggu panitia yang terbentuk dari berbagai komunitas ini berjibaku mengumpulkan beberapa komponen pendukung acara, akhirnya pagelaran sebagai puncak dari Dies Natalis ke 75th Dena Upakara tertunaikan sudah.

Hampir seluruh tiket terjual. Gedung Sasana Adipura Kencana, tempat berlangsungnya acara penuh sesak. Hingga panitia harus membuka kedua pintu samping agar udara leluasa masuk kedalam gedung dan penonton tidak terlalu pengap.
Tepat pukul 19.00 sebuah grup musik rebana dari mahasiswa UNSIQ tampil sebagai pembuka. Disusul kemudian oleh Teater Banyu yang memerankan sebuah rumah tangga yang sedikit mengalami permasalahan.

Kemudian acara puncakpun dimulai  yakni pagelaran mahakarya spektakuler Sendratari Ramayana. Didukung oleh sound system dan stage lighting dari GM Production Jogjakarta, suasa panggung yang sudah sarat properti seperti pepohonan dan bebatuan, menjadi semakin terlihat menawan dan membawa pikiran penonton mengikuti jalur ceritanya.
Setidaknya ada 10 babak yang dirangkai menjadi satu mengikuti naskah sinopsis Sendratari Ramayana dengan lakon “Brubuh Ngalengka” itu. Dalam lakon tersebut diceritakan Hanuman yang menculik Shinta lalu terjadilah kehebohan di Ngalengka Diraja. Cerita berakhir setelah terjadi kedamaian dan happy ending. 

Penontonpun bersorak sorai hingga puluhan kali setiap menyaksikan adegan-adegan yang luar biasa. Bagaimana tidak, sebuah pagelaran drama musikal diperankan oleh anak-anak tuna rungu (bisu tuli) yang hanya mengandalkan feeling dan insting bisa berkolaborasi dengan musik gamelan dengan pangrawit guru-guru LPATR Dena Upakara.

Setelah salam penutup dengan menampilkan seluruh pemain sebanyak 36 anak, Bupati Wonosobo H. Kholiq Arif Msi memberikan sambutan dan applaus luar biasa kepada seluruh pemain. Selain itu Bupati juga memberi apresiasi kepada seluruh elemen yang turut berjibaku menyusun acara hingga tuntas. Yang menarik di sini adalah bahwa panitia, EO dan kru merupakan kolaborasi dari berbagai elemen yakni Suster PMY (Putri Maria Yoseph), OMK (Organisasi Muda Katholik), Mudika (Muda Mudi Katholik), BEM UNSIQ, PMII (Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia), IPNU/IPPNU, Ikatan pelajar Muhammadiyah, budayawan lokal dan  wartawan Tabloid Taman Plaza.

Shinta Bachir Pulang Kampung dan Temui Penggemarnya


Kangen dengan orang tuanya, Shinta Bachir pulang kampung. Meski di Jakarta sudah dipenuhi oleh jadwal syuting dan berbagai jadwal acara namun tak meluruhkan kerinduannya pada orang tua di kampung halaman. Ya, Shinta Bachir adalah salah satu aktris yang orang tuanya masih tetap tinggal di kampung, tidak seperti kebanyakan artis yang memboyong kedua orang tua ke Jakarta.

Selain untuk menemui kedua orang tuanya, kepulangannya kali ini juga untuk menemui para penggemarnya yang menamakan diri WBC (Wonosobo Bachir Club). WBC adalah sekelompok anak muda yang berkumpul dan menjadikan Shinta Bachir sebagai acuan motivasi mereka untuk berkarya dan berkreatifitas. Menurut mereka, Shinta Bachir layak mendapatkan predikat seperti itu lantaran tekadnya menembus batas hingga bisa menjadi aktris terkenal di ibukota.

Setelah sungkem dengan kedua orang tuanya di Dusun Sipedet, Desa Tempursari, Sapuran, pemeran Tante Dolly dalam film Suster Keramas ini sudah ditunggu jadwal jumpa fans di beberapa tempat di Kota Wonosobo. Keberangkatan dari rumah menuju lokasi jumpa fans, Shinta dikawal oleh petugas Patwal dan diiring oleh para penggemarnya. Selain itu ada juga rombongan wartawan infotainment dari Jakarta. Jadwal pertama hari itu adalah talkshow di Radio Pesona FM. Selama satu jam, jumpa fans di udara yang dipandu live oleh Pemred Taman Plaza, Haqqi El Anshary ini cukup interaktif. Banyak hal terungkap dalam sesi ini. 

Selain berbagai pertanyaan dari moderator, para pendengar juga banyak yang mengajukan pertanyaan baik melalui sambungan telepon maupun melalui pesan singkat SMS.
Selepas dari Radio Pesona, pemain film “Mati Muda di Pelukan Janda”  itu meluncur ke Dieng Cinema dalam acara pengundian hadiah bagi penonton Dieng Cinema. Setelah istirahat di Coffee Paste, Shinta lalu memenuhi undangan Bupati Kholiq Arif untuk makan malam bersama. Dalam kesempatan ini Bupati menyampaikan apresiasi kepada Shinta Bachir. Bupati juga memberikan satu buah buku berjudul “Mata Air Peradaban” karya Bupati Kholiq Arif. Shinta juga mendapatkan undangan untuk mengisi rangkaian Hari Jadi Wonosobo tahun ini.

Sebagai acara puncak, digelar acara jumpa fans di Allure Square sekaligus peresmian Wonosobo Bachir Club. Dalam kesempatan tersebut, Shinta juga menyanyikan singlenya berjudul Aku Galau. Acara yang dipandu MC Ayoe Sondakh tersebut cukup meriah dengan ratusan penonton. Bukan hanya  itu, Shinta Bachir juga meresmikan grup band ON AIR dalam naungan manajemen Shinta Bachir.

Perjalanan Shinta Bachir

Jika sekarang Shinta Bachir tampil sebagai seorang aktris terkenal, itu bukan sebuah kebetulan atau tanpa melewati proses yang berliku. Perjalanan seorang Shinta Bachir hingga mencapai popularitas seperti saat ini ternyata diwarnai oleh berbagai cerita yang sangat menarik sekaligus mengharukan.

Pemilik nama asli Istiqomah itu menyelesaikan sekolahnya di Semarang. Di sana, dia tinggal bersama sang bibi. Di sela-sela jam belajarnya, Shinta membantu sang bibi yang mempunyai usaha salon. Selain menjadi asisten di salon tersebut, Shinta kerap kali dijadikan model oleh sang bibi. Seorang penggemar bernama Ova Herdiana mengatakan kepada kami, “Saya pernah dikeramasi sama Shinta waktu masih bekerja di salon di Semarang,” kenangnya.

Selepas dari Semarang, Shinta berangkat merantau ke Jakarta. Di ibu kota, anak ke 7 dari 9 bersaudara ini tinggal bersama sang kakak dan tidak punya pekerjaan tetap. Namun, dari situlah cerita Shinta menjadi artis bermula. “Waktu itu ada syuting sinetron di dekat tempat tinggal kami. Karena lihat artis syuting, saya manfaatin buat foto-foto, narsis gitu lah,” kenangnya sambil tertawa. 

Di lokasi syuting itu ada seorang kru yang mendekati Shinta, menawarkan untuk ikut sebagai figuran. Awalnya Shinta menolak karena takut tidak bisa berperan seperti permintaan sutradara. “lalu saya ikut sebagai figuran, hanya lewat saja di depan kamera, dibayar Rp. 50.000,” kata Shinta.

Dari situ Shinta berkenalan dengan sesama figuran, kemudian saling berbagi informasi jika ada rumah produksi yang mengadakan casting. Salah satu sinetron yang melibatkannya adalah Abdel dan Temon yang tayang di Global TV. “Saya jadi tante-tante seksi yang naik ojek si Temon,” ujarnya. Dari peran itu Shinta dapat bayaran Rp. 150.000.
Hari demi hari, Shinta semakin sering ikut casting. Hasilnya, dia menjadi pemeran di iklan sebuah produk kesehatan. Saat itulah Shinta mulai mendapatkan bayaran yang besar. Dalam iklan tersebut Shinta mendapatkan bayaran Rp. 7 juta. “Awalnya saya nggak percaya ketika membuka amplop dapat segitu, saya pikir itu salah. Lalu saya telpon bagian administrasi PH tersebut,” ujar Shinta mengenang. “Saya pikir hanya sekitar lima ratus ribuan. Ternyata jutaan, ya saya anggap itu uang yang cukup besar waktu itu,” sambungnya.

Sukses menjadi bintang iklan, gadis yang bercita-cita menjadi pramugari ini mendapatkan sebuah peran di film “Suster Keramas”. Di film yang juga dibintangi oleh aktris Jepang Rin Sakuragi itu, Shinta berperan sebagai Tante Dolly. “Di film itu saya mulai pakai nama populer Shinta Bachir,” katanya.

Dari situlah Shinta semakin populer. Beberapa film mulai ia bintangi. Berbagai iklanpun mulai menggunakannya sebagi bintang iklan. Selain itu juga banyak tawaran di beberapa variety show dan pemandu kuis di televisi.
Sukses di Jakarta tidak membuat Shinta lupa diri. Dia tetap ingat dengan kedua orang tuanya. Dia juga tetap konsisten untuk mengakui kepada media dan publik bahwa dia memang berasal dari kampung. Pemeran film Mama Minta Pulsa ini juga tidak malu membawa sejumlah wartawan dari Jakarta ke rumahnya di Sapuran. 

Di mata keluarga, Shinta adalah anak yang berbakti. Hal ini ditunjukkan dengan patuhnya dia terhadap berbagai larangan atau petuah orang tuanya. Shinta juga kemana-mana selalu membawa air bekas cucian kaki ibunya. “Kami kemana-mana bawa air cucian kaki Ibu. Untuk dipakai mandi bahkan di minum. Diwadahi botol, kalau hampir habis kami tambah air lagi supaya tetap penuh,” ujar Aries Bachir, kakak sekaligus manajer Shinta.
  
Sang Ibu, Sumiyati (62) yang beberapa waktu lalu menderita pengapuran pada salah satu kakinya yang memaksanya harus melakukan operasi amputasi, ternyata hingga kini masih belum sepenuhnya paham akan profesi sang anak. “Pernah suatu ketika Ibu menangis melihat Shinta berperan sebagai penjual pecel di sebuah film. Ibu pikir itu kehidupan Shinta yang sebenarnya,” ujar Aries. “Kon bali wae meng ngomah, Mbok egen teyeng ngempani,” lanjut Aries menirukan ucapan Ibunya. Pernah juga sang Ibunda melihat adegan Shinta dikejar-kejar hantu, sang Ibu bertanya dalam bahasa daerah, “kuwe ana batire apa ora?” tanya sang Ibu. (omtri)

Senin, 25 Februari 2013

Aher Melupakan Warga PKS


Pemilihan Gubernur Jawa Barat baru saja usai. Sejumlah lembaga survey tampak telah menyodorkan hasil perhitungan cepat-nya masing-masing. Hasilnya, Ahmad Heryawan mengungguli pasangan lain. Membuntut ketat di belakanganya adalah pasangan Rieke Diah Pitaloka dan Teten Masduki yang diusung PDI Perjuangan. Quick count Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Ahmad Heryawan unggul dengan 33,14 persen dengan margin of eror +-1. Ini memang bukan hitungan resmi. Sebab hitungan resmi itu dilakukan KPUD Jawa Barat.

Baik calon yang mendapatkan suara unggul maupun yang bersuara rendah, masing-masing memberikan keterangannya kepada sejumlah media. Pada intinya adalah ucapan terimakasih telah menggunakan hak pilihnya.

Namun ada yang mengganjal pikiran saya ketika membaca hasil wawancara VIVAnews dengan Ahmad Heryawan (Aher), sesaat setelah menyaksikan hasil hitung cepat bersama para pendukungnya di Hotel Papandayan, Bandung, Minggu 24 Februari 2013. Dia menyebut, kemenangan ini bukanlah karena dia adalah kader Partai Keadilan Sejahtera. Aher menegaskan bahwa pemilihan kepala daerah tidak terkait dengan kader partai dan kepartaian.

“Mereka memilih saya sebagai gubernur, bukan melihat saya sebagai kader partai. Masyarakat memahami permasalahan internal partai tidak berhubungan dengan saya sebagai calon gubernur. Antara figur gubernur dengan partai itu terpisah. Permasalahan internal partai hanya berpengaruh sedikit dalam pencalonan saya,” tandasnya kepada VIVAnews.

Bagi saya ini adalah sebuah pernyataan yang menjauhkan diri Aher dengan rasa terimakaksih kepada para pemilih terutama warga Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Meski saya bukanlah anggota PKS, namun hal ini menunjukkan sedikit “kesombongan” Aher terhadap warga PKS. Seharusnya Aher juga memberikan ucapan terimakasih kepada warga PKS yang tetap mendukung dia maju sebagi gubernur Jawa Barat.

Apapun lah. Termasuk popularitas Dedy Mizwar juga menjadi catatan penting di tengah isu adanya dugaan korupsi yang dilakukan oleh Aher di Bank Jabar Banten.
Wallahu a’lam

Sabtu, 23 Februari 2013

Pidato Lengkap Pengunduran Diri Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Partai Demokrat



Anas Urbaningrum resmi menyatakan mundur dari jabatan Ketua Umum Partai Demokrat setelah ditetapkan sebagai tersangka korupsi. Pengunduran diri Anas dilakukan di depan wartawan di kantor DPP Partai Demokrat, Sabtu 23 Februari 2013. Berikut ini isi pidatonya:

Pertama saya sampaikan terimakasih dan selamat datang khususnya rekan-rekan wartawan di kantor DPP Partai Demokrat. Hari ini saya akan menyampaikan sikap, pikran dan pandangan menyangkut stautus saya dan apa-apa yang akan saya lakukan ke depan. 
 
Seperti diketahui bersama kemarin, tanggal 22 Februari 2013 KPK sudah mengumumkan bahwa saya dinyatakan berstatus tersangka. Atas pengumuman KPK itu, saya menyatakan bahwa saya akan mengikuti proses hukum sesuai dengan ketentuan dan prosedur yang berlaku, karena saya masih percaya bahwa lewat proses hukum yang adil, obyektif dan transparan kebenaran dan keadilan bisa saya dapatkan. 

Saya garis bawahi, saya masih percaya lewat proses hukum yang adil, obyektif dan transparan berdasarkan kriteria-kriteria dan tata laksana yang memenuhi standar saya yakin kebenaran dan keadilan masih bisa ditegakkan. Karena saya percaya, negeri kita ini berdasarkan hukum dan keadilan bukan berdasarkan prinsip kekuasaan. 

Yang kedua, saudara-saudara sekalian. Lewat proses hukum yang obyektif dan transparan itu saya akan melakukan pembelaan hukum sebaik-sebaiknya. Dan lewat proses pembelaan hukum sebaik-sebaiknya itu berdasarkan bukti-bukti dan saksi-saksi yang kredible saya menyakini betul sepenuh-penuhnya bahwa saya tidak terlibat di dalam proses pelanggaran hukum yang disebut sebagai proyek Hambalang itu. 

Ini saya tegaskan, karena sejak awal saya punya keyakinan yang penuh tentang tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar itu. Saya menyakini bahwa kebenaran dan keadilan pangkatnya lebih tinggi dari fitnah dan rekayasa. Kebenaran dan keadilan akan muncul dan mengalahkan fitnah serta rekayasa sekuat apapun rekayasa itu dibangun. Sehebat apapun itu dibangun. Serapih apapun itu dijalankan. Itu keyakinan saya. 

Saudara-saudara sekalian, saya ingin sampaikan sejak awal saya menyakini bahwa saya tidak akan punya status hukum di KPK. Mengapa? Karena saya yakin KPK bekerja independen, mandiri, dan profesional. Karena saya yakin KPK tidak bisa ditekan oleh opini dan oleh hal-hal lain di luar opini, termasuk tekanan dari kekuatan-kekuatan sebesar apapun itu. 

Saya baru mulai berpikir saya akan punya status hukum di KPK ketika ada semacam desakan agar KPK segera memperjelas status hukum saya. Kalau benar katakan benar kalau salah katakan salah. Ketika ada desakan seperti itu, saya baru mulai berpikir jangan-jangan saya menjadi yakin saya akan menjadi tersangka di KPK setelah saya dipersilahkan untuk lebih fokus berkonsentrasi menghadapi masalah hukum di KPK. 

Ketika saya dipersilahkan untuk lebih fokus menghadapi masalah hukum di KPK berarti saya sudah divonis punya status hukum. Status hukum yang dimaksud tentu adalah tersangka. Apalagi saya tahu beberapa petinggi Partai Demokrat yakin betul, haqqul yakin pasti minggu ini Anas menjadi tersangka. 

Rangkaian ini pasti tidak bisa dipisahkan dengan bocornya apa yang disebut sebagai Sprindik. Ini satu rangkaian peristiwa yang pasti tidak bisa dipisahkan. Itu satu rangkaian peristiwa yang utuh sama sekali utuh, sama sekali terkait dengan sangat erat. Itulah faktanya, itulah rangkaian kejadiannya dan tidak butuh pencermatan yang telalu canggih untuk mengetahui rangkaian itu. Bahkan masyarakat umum pun dengan mudah dan mencermati itu. 

Saudara-saudara sekalian, kalau mau ditarik agak jauh ke belakang, sesungguhnya ini pasti terkait dengan kongres Partai Demokrat. Saya tidak ingin cerita panjang, pada waktunya saya akan cerita lebih panjang. Tetapi inti dari kongres itu, ibarat bayi yang lahir, Anas adalah bayi yang lahir tidak diharapkan. Tentu rangkaiannya menjadi panjang. Dan rangkaian itu saya rasakan saya alami dan menjadi rangkaian peristiwa politik dan peristiwa organisasi di Partai Demokrat. Pada titik ini, saya belum akan menyampaikan secara rinci. Tetapi pada konteks yang jelas menyangkut rangkaian peristiwa-peristiwa politik itu. 

Saudara-saudara sekalian, ketika saya memutuskan terjun ke dunia politik dan saya masuk menjadi kader Partai Demokrat saya sadar betul bahwa politik kadang-kadang keras dan kasar. Dalam dunia politik tidak sulit untuk menemukan intrik, fitnah dan serangan-serangan. Itu saya sadari sejak awal dan karena itu saya tahu persis konsekuensi-konsekuensinya, ketika saya tahu persis konsekuensi-konsekuensinya maka saya sampaikan saya tidak akan pernah mengeluh dengan keadaan ini, saya tidak akan pernah mengeluh tentang perkembangan situasi ini dan saya punya keyakinan kuat dan semangat untuk terus menghadapinya termasuk dengan resiko dan konsekuensi. Sekali lagi itu hal yang lazim saja. Saya anggap sebagai sebuah kelaziman, tidak ganjil, tidak aneh apalagi di dalam sistem politik demokrasi kita yang masih muda, termasuk di Partai Demokrat yang juga tradisinya masih muda. 

Saudara-saudara sekalian, karena saya sudah punya status hukum tersangka, meskipun saya yakin bahwa posisi tersangka saya itu lebih karena faktor-faktor non hukum yang saya yakini, tetapi saya punya standar ethik pribadi. Standar ethik pribadi saya adalah mengatakan, kalau saya punya status hukum sebagai tersangka maka saya akan berhenti sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Ini bukan soal jabatan dan posisi, ini soal standar ethik. Standar ethik pribadi saya itu alhamdulillah kemudian cocok dengan Pakta Integritas yang diterapkan di Partai Demokrat. Saya sendiri, di tempat ini beberapa hari yang lalu, seminggu yang lalu kurang lebih sudah menandatangani Pakta Integritas. Dengan atau tanpa Pakta Integritas pun, standar ethik pribadi saya mengatakan hal seperti itu. Saya berhenti sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. 

Terkait dengan itu, saya ingin menyampaikan terimakasih, terimakasih yang tulus kepada kader-kader Partai Demokrat yang telah memberikan kepercayaan, amanah dan mandat politik kepada saya untuk memimpin Partai Demokrat sebagai Ketua Umum periode 2010-2015. Saya mohon maaf, kalau saya berhenti di awal 2013 ini. Saya tidak merencanakan untuk berhenti tahun 2013. Sejauh perjalanan yang saya tempuh saya jalankan, saya tunaikan sebagai ketua umum sepenuhnya saya bersungguh-sungguh menjalankan mandat dan amanat politik itu.
Tentu ada ada kelebihan dan kekurangannya. Tentu ada capaian prestasi dan masih ada bolong-bolongnya, ada lubang-lubangnya. Tetapi saya ingin menegaskan semua itu saya jalani dengan sungguh-sungguh, serius penuh konsentrasi, karena itu bagian panggilan jiwa politik saya dan alhamdulillah saya bersyukur di dalam proses menunaikan tugas kurang lebih hampir tiga tahun ini, dua setengah tahun lebih semuanya saya jalankan, sekali lagi dengan penuh kesungguhan dan konsentrasi. 

Terimakasih kepada kader-kader Partai Demokrat yang selama ini sama-sama menunaikan menjalankan tugas sesuai dengan kewenangan, otoritas dan tugas masing-masing. Pengurus Dewan Pusat, terimakasih, pengurus DPD terimakasih, pengurus DPC terimakasih, kader-kader di seluruh Indonesia terimakasih, Majelis Tinggi saya sampaikan terimakasih, Dewan Pembina saya sampaikan terimakasih, Dewan Kehormatan saya sampaikan terimakasih, Komisi Pengawas saya sampaikan terimakasih. 

Ringkas kalimat saya menyampaikan terimakasih kepada semuanya yang selama ini bersama-sama menjalankan tugas. Meskipun saya sudah berhenti menjadi Ketua Umum, saya akan tetap menjadi sahabat bagi kader-kader Partai Demokrat. Saya ketika melepas jabatan atau posisi Ketua Umum tentu tidak punya kewenangan organisatoris karena sudah saya lepas. Tetapi saya bisa menjaminkan satu hal yang hemat saya penting yaitu ketulusan, persahabatan dan persaudaraan. Saya jaminkan ketulusan, persahabatan dan persaudaraan itu kepada kader-kader Partai Demokrat di seluruh Indonesia apapun nanti tugas, langkah yang akan saya tempuh termasuk apakah saya ada di luar atau ada di dalam, apakah saya menjalani proses hukum, apakah proses hukumnya berjalan dengan adil, obyektif dan transparan atau tidak. 

Tetapi saya menyatakan, menegaskan, menggarisbawahi bahwa saya menjaminkan ketulusan, persahabatan dan persaudaraan. Loyalitas sebagai sahabat yang selama ini kita bangun bersama itu bagian yang indah dan menyegarkan di dalam dinamika organisasi politik partai yang kadang-kadang agak keras, dan panas. Semuanya itu punya makna yang luar biasa. Karena itulah saya yakin betul bahwa saya tetap akan berkomunikasi sebagai sahabat dengan kader-kader Partai Demokrat di seluruh Indonesia. Tidak dalam posisi sebagai Ketua Umum tetapi dalam posisi sebagai teman dan sahabat. 

Saya juga berharap, siapapun yang nanti menjadi Ketua Umum Partai Demokrat bisa untuk menunaikan tugas bahkan jauh lebih baik dengan apa yang sudah saya tunaikan bersama teman-teman pengurus selama ini. Saya yakin pasti akan datang Ketua Umum yang lebih baik. Saya percaya itu, karena sejarah selalu melahirkan pemimpin pada waktunya. 

Selanjutnya saudara-saudara sekalian, apa yang akan saya lakukan ke depan adalah tetap dalam kerangka memberikan kontribusi dan menjaga momentum bagi perbaikan, peningkatan, dan penyempurnaan kualitas demokrasi di Indonesia. Apapun kondisi dan keadaan saya. Kondisi dan keadaan saya itu bukan faktor. Faktornya yang penting adalah bahwa saya akan tetap bersama-sama di dalam sebuah ikhtiar untuk membuat Indonesia ke depan makin baik dan makin bagus. Hari-hari ini dan ke depan akan diuji pula bagaimana etika Partai Demokrat. Partai yang etikanya bersih, cerdas dan santun. 

Akan diuji oleh sejarah, apakah Partai Demokrat adalah partai yang bersih atau partai yang tidak bersih, partai yang bersih atau partai yang korup akan diuji partai yang cerdas atau partai yang tidak cerdas, partai yang solutif menawarkan gagasan-gagasan cerdas dan bernas untuk masa depan bangsa atau partai yang tidak seperti itu, juga diuji apakah Demokrat akan menjadi partai yang santun atau partai yang sadis. Apakah yang terjadi kesantunan politik atau sadisme politik. Ujian itu akan berjalan sesuai dengan perkembangan waktu dan keadaan. 

Tetapi yang paling penting saya garisbawahi adalah bahwa tidak ada kemarahan dan kebencian. Kemarahan dan kebencian itu jauh dari rumus politik yang saya anut. Dan mudah-mudahan juga dianut oleh siapapun kader-kader Partai Demokrat. Diatas segalanya saudara-saudara sekalian, saya ingin menyatakan barangkali ada yang berpikir bahwa ini adalah akhir dari segalanya, barangkali ada yang meramalkan dan menyimpulkan ini adalah akhir dari segalanya. 

Hari ini saya nyatakan ini baru permulaan, hari ini saya nyatakan ini baru sebuah awal langkah-langkah besar, hari ini saya nyatakan bahwa ini baru halaman pertama. Masih banyak halaman-halalaman berikutnya yang akan kita buka dan baca bersama tentu untuk kebaikan kita bersama. Saya sekali lagi dalam kondisi apapun akan tetap berkomitmen, berikhtiar untuk memberikan sesuatu yang berharga bagi masa depan politik kita, bagi masa depan demokrasi kita.
Jadi, ini bukan tutup buku. Ini pembukaan buku halaman pertama. Saya yakin halaman-halaman berikutnya akan makin bermakna bagi kepentingan kita bersama. Inilah saudara-saudara sekalian beberapa hal yang ingin saya sampaikan pada kesempatan siang hari ini, saya tentu akan terus menjadi sahabat, teman-teman sekalian karena banyak buku yang akan kita baca bersama. 

Buku-buku itu jangan dipahami dalam perspektif ngeres, tetapi dalam perspektif positif dan konstruktif, dalam perspektif kebaikan dan kemashlahatan yang lebih besar. Kebaikan dan kemashlahatan yang lebih besar itulah yang menjadi titik orientasi kita. 

Sekali lagi, terimakasih atas kehadiran rekan-rekan sekalian, saya bisa lebih panjang, tapi kalau saya panjangkan nanti terlalu banyak yang harus diberitakan.
Sunandar - Pedoman NEWS

Senin, 18 Februari 2013

Seminar Tentang Difabel dan Sendratari Ramayana Dalam Rangka 75 Tahun LPATR Dena Upakara




Diskriminasi terhadap penyandang cacat/Disabilitas/ atau lebih tepatnya disebut DIFABEL (Diferent Ability) masih sering terjadi di tengah-tengah kita. Diskriminasi tersebut masih kita lihat dari cara pandangan (paradigma), perlindungan hukum, perlakuan, pengakuan, hak-hak dalam masyarakat maupun fasilitas umum yang digunakan.

Hal ini tidak perlu terjadi apabila pemahaman tentang difabel dapat di terima dan dimengerti secara mendalam dalam kehidupan keluarga, masyarakat, dan pemerintah selaku pemegang kebijakan.  

Penyandang DIFABEL bukan lah manusia yang perlu “dikasihani”, mereka hanya membutuhkan “cara yang berbeda” untuk belajar, Ruang aktualisasi karya dan sedikit “perhatian”  bersama. Sehingga mereka menjadi manusia yang “Berdaya” dan mampu “Bersaing” layaknya manusia pada umumnya.

Kerja Sosial & Kampanye bersama cermin dari Pluralitas dan kerukunan ber Agama

Sebagai sebuah lembaga yang aktif dalam pelayanan kepada anak-anak difabel, khususnya anak-anak tunarungu, Lembaga Pendidikan Anak Tunarungu (LPATR) Dena-Upakara Wonosobo mengajak masyarakat luas, khususnya masyarakat Wonosobo untuk ambil bagian dalam kepedulian dan pelayanan kepada kaum difabel di Wonosobo.

Perayaan 75 tahun LPATR Dena-Upakara pada tanggal 15 Maret 2013 akan melibatkan berbagai kalangan masyarakat Wonosobo yang peduli akan pendidikan dan pelayanan kaum difabel. Kepanitian di susun dari beberapa kalangan, baik Mahasiswa, pendidik/Dosen, Budayawan, Tokoh Organisasi Kemasyarakatan dan Tokoh lintas Agama. Dan kegiatan ini melibatkan dan mengundang semua lapisan masyarakat sehingga kampanye tentang DIFABEL ini sesuai dengan harapan yang diinginkan.

Tentang LPATR Dena-Upakara

LPATR Dena-Upakara yang berada di Kabupaten Wonosobo, selama 75 tahun melayani anak-anak tunarungu dari berbagai daerah di Indonesia. Pada awal didirikan, tahun 1938, sampai tahun 1955, lembaga ini melayani anak-anak tunarungu putra dan putri. Namun karena berbagai pertimbangan, maka pada tahun 1956, lembaga ini hanya melayani anak-anak tunarungu putri. Sedangkan yang putra diserahkan kepada Lembaga Karya Bakti (Don Bosco).

Usia 75 tahun tentu saja bukan usia muda dalam perjuangan dan kesetiaan melayani anak-anak tunarungu. Maka LPATR Dena-Upakara hendak bersyukur atas perjuangan dan kesetiaan tersebut. LPATR Dena-Upakara mengajak masyarakat Wonosobo untuk merayakan hari penuh syukur dan kebahagiaan dalam sikap peduli kepada kaum difabel yang ada di Wonosobo dan merayakannya dengan menyaksikan pentas Sendratari Ramayana.


BENTUK KEGIATAN
1.    TALKSHOW
Talkshow  ini akan membahas tentang dunia  Difabel dalam  mendapatkan kedudukan, perlakuan, dan hak yang sama seperti yang diamanahkan dalam UNDANG-UNDANG NEGARA REPUBLIK INDONESIA, NOMOR 4 TAHUN 1997, TENTANG PENYANDANG CACAT.

TEMA  :
“Menuju Keluarga, Masyarakat dan Pemerintahan sensitif DIFABEL”
PEMBICARA :
a.      Arswendo Atmo Wiloto (Budayawan)
b.      Pakar dan penggiat dunia Difabel (UIN suka)
c.      Pakar dari kampus Sanatadharma
d.      Unsur Pemerintah
e.      Perwakilan Dena-Upakara
TUJUAN :
Seminar ini akan diikuti 200 peserta dari kalangan :
a.      Membuka paradigma baru tentang Difabel
b.      Meningkatkan kesadaran keluaraga, masyarakat dan pemeritah yang sensitif difabel.
c.      Meningkatkan pendidikan dan pelayanan yang sesuai bagi kaum difabel.
d.      Kampanye bersama  Kepedulian social terhadap DIFABEL
PESERTA :
a.      Instansi Pemerintah (Desa, Kecamatan dan Kabupaten)
b.      Kalangan Pelajar dan Mahasiswa
c.      Tokoh Masyarakat
d.      Kalangan Pendidik
e.      UMUM
WAKTU dan TEMPAT
Seminar ini dilaksanakan pada Hari Jum’at. 15 Maret 2013. Pukul 14.00-16.00, di Gedung Sasana Adipura Wonosobo

2.    SENDRATARI RAMAYANA
LAKON
“Brubuh  Ngalengka”
PENARI
Siswi-siswi Tunarungu Dena-Upakara Wonosobo kelas Dasar 1 sampai SMPLB kelas VIII.
PEMUSIK (PENGRAWIT)
Guru-guru Dena-Upakara Wonosobo.
WAKTU & TEMPAT
Dilaksanakan pada Hari Jum’at. 15 Maret 2013. Pukul 16.00-20.00, di Gedung Sasana Adipura Wonosobo
3.    PAMERAN PRODUK HASTA KARYA
Sebagai bukti bahwa siswi-siswi Dena Upakara dapat berdaya saing dengan siswi-siswi lainya maka pameran ini diharapkan dapat memberikan gambaran kepada masyarakat luas bagaima proses kreatif dibalik karya tersebut,
image

Blogger - Web Development

Mau belajar ngeblog bareng saya? Atau butuh layanan pembuatan website untuk UMKM, LSM, Sekolah, Perusahaan atau sekedar blog pribadi. Just call me :)

image

Branding Development

Butuh konsultasi dalam pengembangan merek, mengkonsep merek, pemasaran hingga konsep waralaba? Silahkan hubungi kami.